7 Perjalanan dan Paham Keliru Tentang Feminisme di Indonesia

Feminisme merupakan wujud pemikiran-pemikiran dan ekspresi berbeda, semuanya dengan tujuan membangun kesetaraan perempuan di berbagai kehidupan. Namun masih banyak yang keliru memahami. Berikut beberapa paham keliru tentang feminisme di Indonesia yang sering terjadi.

  1. Feminis Membenci Laki-Laki

Hal yang salah pertama yakni feminisme dianggap membenci laki-laki. Feminisme merupakan gerakan atau ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, budaya, ruang pribadi, hingga ruang publik. Meski begitu, feminisme tidak pernah menjadi ideologi kebencian.

  1. Feminisme Harus Melemahkan Laki-Laki

Agar bisa mencapai kesetaraan gender, memang butuh dekonstruksi maskulinitas. Tapi, hal ini tidak sama dengan mengebiri lelaki. Dalam sejarah gerakan ini telah memupuk tradisi perenungan yang dalam pemikiran kembali konstruksi sosial atas gender atau dinamika gender.

Feminisme seharusnya memperbaiki relasi gender, bukan memperkuat hanya satu jenis kelamin dengan mengorbankannya. Sehingga paham ini sangatlah salah di mata masyarakat Indonesia. Tidak ada yang bertindak demikian.

  1. Feminisme Hanya Membantu Perempuan

Sebenarnya, feminisme tidak hanya membebaskan perempuan, gerakan ini juga membebaskan laki-laki dengan memutus standar yang diberikan masyarakat pada kedua jenis kelamin ini. Feminisme merupakan pengubahan peran gender, norma seksual dan praktik seksis yang membatasi diri.

Laki-laki juga memiliki kebebasan dalam menjelajahi hidup di luar batas-batas kaku maskulinitas. Selain itu, gerakan ini percaya akses yang sama untuk pendidikan dan gelar pekerjaan. Sehingga Anda punya kesempatan yang lebih baik dalam menjalani hidup.

4. Hanya Perempuan yang Bisa Jadi Feminis

Feminis memang mengatasi masalah sehari-hari seperti kekerasan rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, ketidaksetaraan penghasilan, objektivitas seksual, dan lain sebagainya. Cara yang paling efektif untuk menanggulangi hal ini yakni dengan melibatkan kaum laki-laki, meningkatkan kesadaran mereka mengenai kepekaan gender.

  1. Feminis Pasti Ateis

Hal yang banyak keliru mengenai feminisme di Indonesia yakni pada poin ini. Beberapa agama memiliki perspektif patriarkal yang tinggi dan melanggengkan praktik diskriminatif kuno terhadap perempuan. Tapi tidak berarti tidak ada ruang untuk memperbaiki. Interpretasi rumah perempuan dalam agama sangat banyak.

Negara kita punya ulama feminis dan cendekiawan muslim serta beberapa tokoh lainnya. Anda tidak perlu beranggapan kalau feminis pastilah ateis. Sebenarnya mereka sama seperti kita, dalam feminisme juga terdapat ajaran-ajaran di dalamnya.

  1. Feminis Tidak Percaya Pernikahan

Banyak feminis yang punya pernikahan dan bahagia. Selama pernikahan memberikan nilai-nilai, sosial dan hukum. Hal yang ditolak dalam feminis yakni ketika masyarakat menilai pernikahan sebagai tempat yang lebih baik untuk perempuan dan dapat memberi hukuman sosial untuk mereka yang tidak menikah.

Feminis percaya bahwa pernikahan digunakan sebagai cara mengontrol perempuan. Tidak hanya itu, feminis percaya pernikahan legal harus berlaku bagi semua pregerensi seksual dan ekspresi gender.

  1. Feminis Sejati Tidak Memakai Riasan Wajah

Hal ini sangat tidak benar. Feminisme memberikan perempuan banyak pilihan bukan malah membatasi untuk berekspresi. Tak bisa jika memakai sepatu flat, maka pakailah high heels. Tidak bisa memakai rok panjang, maka pakai rok pendek.

Tapi mengekspresikan diri dalam feminisme tradisional adalah pilihan. Semua itu bukanlah kewajiban dan tidak seharusnya mendefinisikan diri Anda. Sehingga pilihlah hal yang menurut Anda nyaman dan tidak merugikan orang lain.

Feminisme di Indonesia memang tidak begitu dikenal dengan baik sehingga masih banyak masyarakat yang keliru. Banyak anggapan-anggapan yang masih jauh dan berdasarkan subjektivitas belaka. Sehingga pelajari lebih dalam terlebih dulu mengenai feminisme agar tidak salah beropini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *